Langsung ke konten utama

Postingan

Pengaruh

8/10/2019 Everything went by real quick. Aku hari ini libur kerja. Sebuah keputusan terbaik, mungkin, yang aku buat minggu ini. I got plenty of time to do anything I want. Hari ini, aku pergi ke rumah Mina hanya untuk ngeprint dan fotocopy saja. Ini sebuah kegiatan yang sedikit tidak tahu diri tapi sangat lumrah terjadi dalam lingkup  pertemanan kami berempat. Sangat bersyukur bisa mampir untuk jangka waktu yang cukup meski tidak terlalu lama. Karena akhirnya aku bisa dengar cerita kehidupannya. Mungkin dia sendiri juga sudah bingung mau cerita ke siapa karena belakangan kami semua sibuk dengan kegiatan masing-masing. Semoga kehadiranku tadi dapat meringankan pikiran dan hatinya dari keluh kesah. Sebuah keputusan yang baik pertama di hari ini. Selepas dari rumah Mina, aku beranjak ke kampus untuk antri, ehm, pengambilan rekening beasiswa. Tentu saja bersama sobat kampus Wen Mahatma. Melalui antrian yang cukup panjang, kami akhirnya berhasil mendapatkan buku tabungan dan me...

Ritual Mengganti Seprei (her)

Kepada seseorang yang hatinya pernah kuremukkan lalu kususun kembali dengan tatanan yang tidak tepat, mungkin malam ini kamu sibuk mengerjap, memandangi langit-langit kamar yang kosong sembari membiarkan memori tentang pertengkaran serta pertukaran kenangan kita di belakang kedua matamu. Begitu pula dengan Aku, yang sibuk berandai-andai bagaimana esok pagi akan kulewatkan tanpa membuatkanmu sepiring panekuk yang terlalu matang dan tidak kamu suka, tapi tetap kamu makan karena kamu tahu hanya itu yang bisa aku buat. Aroma kopi yang tiap pagi Aku buatkan untukmu, tiga sendok bubuk kopi dan satu sendok gula yang diseduh dengan air panas hasil rebusan, masih lekat di remang-remang indra penciumanku. Segala kesibukan yang dulu terasa berat dan tidak menyenangkan, kini terasa kian dirindukan. Sepiring panekuk dan secangkir kopi yang kamu balas dengan senyum dan kecup di pipi kananku, Aku selalu suka. Kamu selalu bersikukuh untuk sarapan, meski setelah itu kegiatanmu hanya seputar bergelu...

Ritual Mengganti Seprei (him)

Kamu berubah. Kamu tidak pernah berteriak kepadaku. Kamu berubah, atau mungkin kamu hanya menjadi dirimu sendiri. Aku berdiri dalam keheningan yang kuciptakan sendiri. Keheningan yang terlalu ramai untuk seorang Aku. Seorang yang mencintai keramaian namun dengan mahirnya menciptakan keheningan. Mungkin selama ini Aku tidak mencintai keramaian, Aku mencintaimu. Kedua kelopak mataku mengerjap memandang langit-langit kamar tempat dimana kita pernah berbaring, berdua, dengan kepalamu berada di lengan kananku. Selalu ada percakapan di antara kita, terlalu banyak hal yang telah didengarkan langit-langit kamar ini, dari angan hingga desahan. Mungkin Aku masih belum percaya bahwa tidak lagi ada kita, kini hanya ada Aku kembali. Aku dan hanya Aku, sebagaimana sebelumnya tanpa kamu. Aku yang hanya menyunggingkan senyum kecut pada segala hal yang lucu bagi mereka, Aku hanya tersenyum, masam, semasam jeruk muda di kebun ibu yang dulu pernah kita petik berdua. Langit malam ini tidak seindah lan...

Tidak Menemui Rumah

Aku menahan diri untuk tidak pernah pulang. Meski gundah menyerang dan tangis berderai, aku tidak pernah pulang. Meski rintik mulai turun dan langit bergemuruh, aku tidak pernah pulang. Pulang hanya akan menahan langkahku lebih lambat dan tak kunjung beranjak. Aku tidak mau dan tidak pernah pulang. Aku tidak ingin pulang kepada sajak-sajak yang tak selesai. Aku tidak ingin pulang pada kekacauan yang urung aku akui. Aku tidak ingin pulang pada jernih yang kuperkeruh. Aku tidak ingin pulang pada penantian yang tidak aku nantikan. Aku tidak ingin pulang pada tempat yang terus mendorongku untuk menggelengkan kepala pada apa-apa yang aku inginkan. Aku tidak ingin pulang pada suara yang kerap memekik. Aku tidak ingin pulang dan menemui sudut-sudut yang tak kunjung rampung dibenahi. Pulang hanya akan membuatku terpekur dan memeluk luka-luka yang aku ciptakan sendiri. Menjadi orang lain yang menyalahi nurani, menjerumuskanku pada patah hati yang sepatah-patahnya. Apabila pergi membuatku lebih ...
sangat sulit untuk aku mulai kembali menulis beberapa bulan ini. mungkin aku terlalu bahagia. maka hari ini kutekadkan diriku untuk menjadi lebih sedih, entah dengan cara apa. mungkin dengan cara bangun lebih pagi dan tetap bergelung dalam selimut hingga ibuku memekik, mengutuk perilaku malasku. label malas yang ditancapkannya padaku dan lengking suaranya mungkin bisa membuatku sedih setidaknya untuk beberapa jam ke depan. beberapa jam hingga aku sudah tuntas menyelesaikan kewajibanku di rumah: menyapu, mengepel, menyisir kucing, merapikan kamar tidur, mencuci, menjemur baju dan mengantar ibuku bekerja. setelahnya, mungkin aku bisa bersedih dengan cara pergi ke kedai kopi tempat aku biasa menghabiskan waktu luang. menyaksikan orang-orang bercengkrama, tertawa, sementara aku sendiri mengurung diri, mencoba untuk bersedih, mungkin bisa membuatku lebih sedih. menyaksikan pasangan yang terlihat asing bermesraan di depanku, tak menganggapku ada, mungkin bisa membuatku lebih sedih. setelah m...

ROUGH

Kerap kali aku bingung harus mulai darimana untuk menceritakan bagaimana keadaan hidupku sekarang. Sederhananya, it’s been a rough month. Satu bulan ini hidupku banyak morat-maritnya tapi alhamdulillah I survive, as in aku masih bernafas dan kembali berkegiatan dalam keadaan mental yang cukup stabil.  Aku sangat siap untuk memulai perjalanan baru dalam hidupku, entah mau kemana tapi aku merasa cukup siap menerima tantangan baru. Salah satu hal yang menurutku cukup baru adalah menjajal pekerjaan sebagai staff marketing yang mendorong aku untuk berinisiatif, kenal dengan orang baru dan rajin-rajin putar otak biar dapat mencuri kesadaran masyarakat atas brand yang aku usung. Awalnya aku ragu, melalui beberapa saran dari teman aku akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran ini. It’s been rough but I learn something new. Sayangnya, pekerjaan ini mungkin tidak akan berlangsung lama karena ada beberapa proyek di bisnis keluargaku yang harus aku urus mulai bulan depan. Sebuah keputu...

Mencintai Dilema

Dalam beberapa tahun, aku mungkin akan melupakan apa yang sedang aku lakukan hari ini. Mengurung diri dalam gelembung yang aku tiup sendiri. Duduk sendiri dalam keramaian yang bahkan mungkin tidak menganggap aku ada. Aku akan pergi ke kota besar, bekerja, mungkin naik jabatan, menikah, berkembang biak dan bahagia, Tapi, aku tidak berencana melupakan perasaan yang kini sedang aku rasakan. Perasaan yang mungkin akan terjadi berulang-ulang dalam berbagai kesempatan dalam hidupku. Merasa bertanya-tanya atas keputusan yang aku ambil, benar atau salah. Sebuah dilema. Merasa telah memilih namun tidak cukup yakin. Merasa ingin mundur, tapi tidak bisa tidak maju. Mencintai tidak pernah terasa sepelik ini. Mencurahkan sebagian diri untuk berbagi rasa dengan orang lain tidak pernah terasa seasing ini. Kulitku berdesir membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, bibirku bergetar, antara ingin tahu dan ingin tak terjadi. Namun, aku suka.