Langsung ke konten utama

Ritual Mengganti Seprei (her)


Kepada seseorang yang hatinya pernah kuremukkan lalu kususun kembali dengan tatanan yang tidak tepat, mungkin malam ini kamu sibuk mengerjap, memandangi langit-langit kamar yang kosong sembari membiarkan memori tentang pertengkaran serta pertukaran kenangan kita di belakang kedua matamu. Begitu pula dengan Aku, yang sibuk berandai-andai bagaimana esok pagi akan kulewatkan tanpa membuatkanmu sepiring panekuk yang terlalu matang dan tidak kamu suka, tapi tetap kamu makan karena kamu tahu hanya itu yang bisa aku buat. Aroma kopi yang tiap pagi Aku buatkan untukmu, tiga sendok bubuk kopi dan satu sendok gula yang diseduh dengan air panas hasil rebusan, masih lekat di remang-remang indra penciumanku. Segala kesibukan yang dulu terasa berat dan tidak menyenangkan, kini terasa kian dirindukan. Sepiring panekuk dan secangkir kopi yang kamu balas dengan senyum dan kecup di pipi kananku, Aku selalu suka.
Kamu selalu bersikukuh untuk sarapan, meski setelah itu kegiatanmu hanya seputar bergelung di tempat tidur untuk beberapa jam ke depan. Aku merindukan pesan singkat yang kamu kirim hampir tiap hari demi mengingatkanku untuk menggigit setangkup roti yang kamu siapkan sembari menungguku mandi. Kamu tahu bahwa Aku mungkin tidak mendengarkanmu, tapi Aku selalu mengindahkan hal-hal yang tertera di ponselku. Mungkin karena ini kamu tak pernah lagi memperjuangkanku, Aku tak pernah mendengarkanmu. Aku merindukan hangatnya kita di atas seprei putih, yang susah payah kuganti, setelah memaksamu untuk bangun. Bukan hanya sekedar pelukan, kecupan dan desahan, namun juga saksi bagaimana kamu mendorongku untuk mengandai-andaikan masa depan dengan pertanyaan-pertanyaanmu. Aku tak pernah menjawab, Aku hanya diam, Aku disiksa perasaan bersalah terhadap diri sendiri dan seorang kamu.
Aku tak pernah memiliki seseorang dengan keyakinan sebesar itu  kepada seorang Aku, kamu tahu kan? Inilah yang terjadi dengan percaya kepadaku. Kamu perlahan akan kudorong menjauh dan Aku akan berusaha menjauh darimu. Ini sudah melewati batas yang Aku terapkan pada hatiku. Aku tidak seharusnya membiarkan seseorang menjadi yakin dan mencintaiku. Membuatnya berpikir alasanku merupakan alasan palsu. Membiarkan seseorang berpikir bahwa ada seseorang lain yang akan dengan senang hati bangun dari tempat tidur, bahkan membantuku memasang sprei yang baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

terima kasih sebanyak - banyaknya bisa saya bilang

pertama saya mau terima kasih buat Revy Tiara Zahra , yang sudah merombak habis - habisan blog saya jadi terlihat seperti blog cewek (?) good job kedua mau terima kasih buat Bunda , panggilan saya kepada mamanya Revy yang sudah menginspirasi banyak puisi serta cerpen dengan menggunakan bahasa yang lebih menggugah jiwa ketiga buat Virza yang tetep nemenin chat di facebook saat yang laen udah ke twitter (twitter lagi) keempat buat 'someone special' yang mau fotonya sama foto saya pas interview dan baru kenal dulu dibikin profile picture saya kelima buat Mas Danniar atau Mas Dandong yang mau ngasih traktiran besok walopun kayaknya saya cuma minta permen milkita emutan (lollipop maksudnya) keenam .. keenam .. sapa ya ? jadi lupa . keenam buat saya sendiri yang senantiasa ingin membahagiakan orang sekitar walaupun masih belum yakin apakah bisa membahagiakan diri sendiri :p oh iya , ini untuk ketujuh dan seterusnya , makasih buat temen - temen yang suka baca blog saya (g...

Menjadi Rumah

Sudahkah kamu pulang? Pulanglah, peluklah amarahmu. Bersedihlah, menangislah. Tersenyumlah. Karena dalam setiap amarahmu akan ada ketenangan yang menerimamu kembali. Ada ketenangan yang menjadi rumah bagi amarahmu. Karena dalam sedih dan tangismu akan ada bahagia dan peluk-peluknya. Ada bahagia yang menjadi rumah bagi mereka. Maka tersenyumlah, karena ada kisah-kisah sendu yang siap menerimamu kembali. Ada kisah sendu yang menjadi rumah bagi senyummu. Mengingatkanmu kembali pada aroma seorang yang pernah membuatmu patah hati dan kembali berdiri dua kali lebih tegar. Mengingatkanmu atas gelak tawa di tengah malam ketika letih melanda dan lelucon apapun terasa lucu. Mengingatkanmu pada sore-sore yang dihabiskan dengan berkendara. Sudahkah kamu pulang? Pulanglah, peluklah dirimu. Pulanglah, karena tanpa bahagia kamu bisa pulang. Pulanglah, karena amarah juga merindukanmu. Pulanglah, tidak ada yang salah dengan menjadi rapuh.