Langsung ke konten utama

Postingan

Tidak Menemui Rumah

Aku menahan diri untuk tidak pernah pulang. Meski gundah menyerang dan tangis berderai, aku tidak pernah pulang. Meski rintik mulai turun dan langit bergemuruh, aku tidak pernah pulang. Pulang hanya akan menahan langkahku lebih lambat dan tak kunjung beranjak. Aku tidak mau dan tidak pernah pulang. Aku tidak ingin pulang kepada sajak-sajak yang tak selesai. Aku tidak ingin pulang pada kekacauan yang urung aku akui. Aku tidak ingin pulang pada jernih yang kuperkeruh. Aku tidak ingin pulang pada penantian yang tidak aku nantikan. Aku tidak ingin pulang pada tempat yang terus mendorongku untuk menggelengkan kepala pada apa-apa yang aku inginkan. Aku tidak ingin pulang pada suara yang kerap memekik. Aku tidak ingin pulang dan menemui sudut-sudut yang tak kunjung rampung dibenahi. Pulang hanya akan membuatku terpekur dan memeluk luka-luka yang aku ciptakan sendiri. Menjadi orang lain yang menyalahi nurani, menjerumuskanku pada patah hati yang sepatah-patahnya. Apabila pergi membuatku lebih ...
sangat sulit untuk aku mulai kembali menulis beberapa bulan ini. mungkin aku terlalu bahagia. maka hari ini kutekadkan diriku untuk menjadi lebih sedih, entah dengan cara apa. mungkin dengan cara bangun lebih pagi dan tetap bergelung dalam selimut hingga ibuku memekik, mengutuk perilaku malasku. label malas yang ditancapkannya padaku dan lengking suaranya mungkin bisa membuatku sedih setidaknya untuk beberapa jam ke depan. beberapa jam hingga aku sudah tuntas menyelesaikan kewajibanku di rumah: menyapu, mengepel, menyisir kucing, merapikan kamar tidur, mencuci, menjemur baju dan mengantar ibuku bekerja. setelahnya, mungkin aku bisa bersedih dengan cara pergi ke kedai kopi tempat aku biasa menghabiskan waktu luang. menyaksikan orang-orang bercengkrama, tertawa, sementara aku sendiri mengurung diri, mencoba untuk bersedih, mungkin bisa membuatku lebih sedih. menyaksikan pasangan yang terlihat asing bermesraan di depanku, tak menganggapku ada, mungkin bisa membuatku lebih sedih. setelah m...

ROUGH

Kerap kali aku bingung harus mulai darimana untuk menceritakan bagaimana keadaan hidupku sekarang. Sederhananya, it’s been a rough month. Satu bulan ini hidupku banyak morat-maritnya tapi alhamdulillah I survive, as in aku masih bernafas dan kembali berkegiatan dalam keadaan mental yang cukup stabil.  Aku sangat siap untuk memulai perjalanan baru dalam hidupku, entah mau kemana tapi aku merasa cukup siap menerima tantangan baru. Salah satu hal yang menurutku cukup baru adalah menjajal pekerjaan sebagai staff marketing yang mendorong aku untuk berinisiatif, kenal dengan orang baru dan rajin-rajin putar otak biar dapat mencuri kesadaran masyarakat atas brand yang aku usung. Awalnya aku ragu, melalui beberapa saran dari teman aku akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran ini. It’s been rough but I learn something new. Sayangnya, pekerjaan ini mungkin tidak akan berlangsung lama karena ada beberapa proyek di bisnis keluargaku yang harus aku urus mulai bulan depan. Sebuah keputu...

Mencintai Dilema

Dalam beberapa tahun, aku mungkin akan melupakan apa yang sedang aku lakukan hari ini. Mengurung diri dalam gelembung yang aku tiup sendiri. Duduk sendiri dalam keramaian yang bahkan mungkin tidak menganggap aku ada. Aku akan pergi ke kota besar, bekerja, mungkin naik jabatan, menikah, berkembang biak dan bahagia, Tapi, aku tidak berencana melupakan perasaan yang kini sedang aku rasakan. Perasaan yang mungkin akan terjadi berulang-ulang dalam berbagai kesempatan dalam hidupku. Merasa bertanya-tanya atas keputusan yang aku ambil, benar atau salah. Sebuah dilema. Merasa telah memilih namun tidak cukup yakin. Merasa ingin mundur, tapi tidak bisa tidak maju. Mencintai tidak pernah terasa sepelik ini. Mencurahkan sebagian diri untuk berbagi rasa dengan orang lain tidak pernah terasa seasing ini. Kulitku berdesir membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya, bibirku bergetar, antara ingin tahu dan ingin tak terjadi. Namun, aku suka.

Timing

Aku masih bisa merasakan getar di tubuhku, entah karena menggigil kedinginan atau karena akhirnya mendengar kata-kata yang selama ini ingin aku katakan padamu telah terlebih dahulu kamu katakan pada seorang aku, “ Thank you for existing .” Diikuti dengan ucapan selamat malam dan salam. Waalaikumsalam , Mas . Just in case kamu nggak dengar kelanjutannya. Esok, mungkin kita akan kembali bercengkrama seperti selayaknya tidak pernah ada yang terjadi malam ini. Seperti halnya kita telah pernah mengabaikan rasa yang tidak pernah kita utarakan pada satu sama lain akhirnya berlabuh pada orang yang datang sebelum dan setelahnya. Pada satu sisi, kita mengagumi sebuah hubungan yang kita bina dengan ragu-ragu, namun di sisi lainnya kita merasa bahwa apa yang kita jalani sekarang tidak akan pernah menemui ujung.  Aku tidak tahu bagaimana mereka menyebut perasaan yang sedang aku rasakan, tapi apabila ini memang bukan cinta maka aku ingin merasakannya lebih lama lagi. I li...

HBD YA NEN

I really want to say thank you to this person, if she ever read this.  MET HBD YA AYATHANIA YA ALLAH YA RABBI KOK YA PAS IDUL FITRI BEGITU SEMOGA PERTANDA BAIK. Kon ngerti gak nen, kon iki salah satu orang paling berjasa ndek uripku because you put everything in some way that I find make sense. Awakmu meyakinkan aku untuk cuek ae daftar duta smarihasta meanwhile aku sek elek dan lemu dan nabil obviously tidak support dan suka ngetrek-ngetrek, but you told me, dal tok ci! ok then, I dal.  dan aku menang. Kon orang pertama sing mengajariku how to do the catwalk and strike a pose. coooookkkkk rasane atiku tratapan sampe saiki membayangkan diriku berlenggak-lenggok lancar ngono sumpah iki terlihat mendramatisir but this is one of the most precious moment I have in my entire life. Karena, iki titik balik aku percaya bahwa ada orang yang percaya this brain works good even if the packaging wasn’t really a pleasure for the eye. Aku iling, sakdurunge pengumuman...

where is that girl?

sebagai soundtrack, silakan kalian puter dulu ya lagu judulnya Used To Be Mine, yang versi Jessie Mueller. sek jangan nanges dulu. Eh nggak tahu sih bagi kalian gimana, but for me. It's very relatable. One fucking year. I lost my life for one fucking year. I still remember that life, ketika aku benar-benar nggak punya waktu bahkan untuk diriku sendiri. Mirisnya, kok baru sadar setelah kelewat satu tahun, lebih parah. Aku lo rek rencananya tahun ini ingin ikut pageant-pageant gitu. You know why? I'm ready. Sudah terlalu banyak orang yang mengalami problema yang aku alami dahulu, and this is my chance to stand up and raise them as well. Aku selalu ingin membantu memudahkan kehidupan orang lain rek. Aku nggak tahu apakah kalian merasa atau tidak ingin merasa atau hanya ekspektasiku bahwa kalian harusnya menyadari ini. But I really hope, dari sekian masalah dalam kehidupan kalian, aku bukan salah satunya. Aku harap kalian tahu bahwa aku nggak pernah marah. Bukan ka...