Langsung ke konten utama

minimarket (2)

see the first post of "minimarket"

"kayaknya baru kemaren ya kita ketemu disini, baru kemaren aku nganterin kamu pulang,sekarang jok motorku udah bosen sama kamu" ujarnya sambil tersenyum jahil.
ternyata sudah setahun sejak kejadian itu, sejak aku bertemu dengannya di minimarket sebelah, lalu mereka pergi sambil merangkul pinggang satu sama lain, tanpa tedeng aling-aling menebarkan kemesraan dalam lingkup cinta mereka.
yah, sudahlah. sudah satu tahun. hari itu, aku menunggu hujan reda di cafe ini bersama Mas Cakra,membicarakan hal-hal yang mungkin sering luput dari pembicaraanku bersama teman-teman.sama sekali tidak ada kecanggungan di antara kami.perlahan, kami mulai mengenal satu sama lain, mulai timbul konflik, berbaikan. dia....sempurna.
Mas Cakra adalah figur yang terkenal eksentrik, tak jarang ia menggodaku dengan sebutan adinda yang sering membuat tertawa terpingkal-pingkal. juga sebuket bunga yang sering ada di mejaku. ia selalu tahu cara membahagiakan seorang wanita. tapi bukan berarti ia seorang playboy, ia hanya berlaku seperti itu.... padaku.
setahun yang lalu, aku masih setinggi hidungnya, sekarang aku setinggi bahunya, aku yang tidak bertambah tinggi atau Mas Cakra yang tumbuh tinggi dengan cepat.tahun lalu, aku masih sering menangisi kejadian di minimarket yang sekejap meremukkan semua harapanku.hari ini, mereka, Mas Cakra dan 'dia' yang selalu membuat selai kacang di lidahku terasa hambar itu, baru saja dinyatakan lulus dan diserahkan kepada orangtua masing-masing.wisuda, istilahnya.
dengan setelannya yang fit perfectly itu,dia menggenggam tanganku.
"aku nyaman sama kamu, aku sayang kamu...."
"aku juga sayang sama Mas," ujarku canggung.aku tidak pernah mengatakan kata-kata seperti itu selama ini, sekalipun dengannya.
"gak papa kan?"
"ya gak papa lah Mas, kan emang harus nerus, masa' Mas Cakra mau disini terus?"
"hehe iya ya"
maaf Mas, aku tidak tega, perlakuanmu, cintamu, sayangmu, dia......
masih di hatiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ritual Mengganti Seprei (her)

Kepada seseorang yang hatinya pernah kuremukkan lalu kususun kembali dengan tatanan yang tidak tepat, mungkin malam ini kamu sibuk mengerjap, memandangi langit-langit kamar yang kosong sembari membiarkan memori tentang pertengkaran serta pertukaran kenangan kita di belakang kedua matamu. Begitu pula dengan Aku, yang sibuk berandai-andai bagaimana esok pagi akan kulewatkan tanpa membuatkanmu sepiring panekuk yang terlalu matang dan tidak kamu suka, tapi tetap kamu makan karena kamu tahu hanya itu yang bisa aku buat. Aroma kopi yang tiap pagi Aku buatkan untukmu, tiga sendok bubuk kopi dan satu sendok gula yang diseduh dengan air panas hasil rebusan, masih lekat di remang-remang indra penciumanku. Segala kesibukan yang dulu terasa berat dan tidak menyenangkan, kini terasa kian dirindukan. Sepiring panekuk dan secangkir kopi yang kamu balas dengan senyum dan kecup di pipi kananku, Aku selalu suka. Kamu selalu bersikukuh untuk sarapan, meski setelah itu kegiatanmu hanya seputar bergelu...

terima kasih sebanyak - banyaknya bisa saya bilang

pertama saya mau terima kasih buat Revy Tiara Zahra , yang sudah merombak habis - habisan blog saya jadi terlihat seperti blog cewek (?) good job kedua mau terima kasih buat Bunda , panggilan saya kepada mamanya Revy yang sudah menginspirasi banyak puisi serta cerpen dengan menggunakan bahasa yang lebih menggugah jiwa ketiga buat Virza yang tetep nemenin chat di facebook saat yang laen udah ke twitter (twitter lagi) keempat buat 'someone special' yang mau fotonya sama foto saya pas interview dan baru kenal dulu dibikin profile picture saya kelima buat Mas Danniar atau Mas Dandong yang mau ngasih traktiran besok walopun kayaknya saya cuma minta permen milkita emutan (lollipop maksudnya) keenam .. keenam .. sapa ya ? jadi lupa . keenam buat saya sendiri yang senantiasa ingin membahagiakan orang sekitar walaupun masih belum yakin apakah bisa membahagiakan diri sendiri :p oh iya , ini untuk ketujuh dan seterusnya , makasih buat temen - temen yang suka baca blog saya (g...

Menjadi Rumah

Sudahkah kamu pulang? Pulanglah, peluklah amarahmu. Bersedihlah, menangislah. Tersenyumlah. Karena dalam setiap amarahmu akan ada ketenangan yang menerimamu kembali. Ada ketenangan yang menjadi rumah bagi amarahmu. Karena dalam sedih dan tangismu akan ada bahagia dan peluk-peluknya. Ada bahagia yang menjadi rumah bagi mereka. Maka tersenyumlah, karena ada kisah-kisah sendu yang siap menerimamu kembali. Ada kisah sendu yang menjadi rumah bagi senyummu. Mengingatkanmu kembali pada aroma seorang yang pernah membuatmu patah hati dan kembali berdiri dua kali lebih tegar. Mengingatkanmu atas gelak tawa di tengah malam ketika letih melanda dan lelucon apapun terasa lucu. Mengingatkanmu pada sore-sore yang dihabiskan dengan berkendara. Sudahkah kamu pulang? Pulanglah, peluklah dirimu. Pulanglah, karena tanpa bahagia kamu bisa pulang. Pulanglah, karena amarah juga merindukanmu. Pulanglah, tidak ada yang salah dengan menjadi rapuh.