Langsung ke konten utama

dari yang hatinya terlalu jauh

maaf untuk kesekian kalinya aku lagi-lagi menyinggung kehadiranmu.
setelah setahun berlalu ternyata banyak yang berubah di antara kita, kamu, aku, kita.
mulai dari aku yang dari dulu terlalu sering mengemis cintamu, aku masih belum tahu apa maksud perbuatanmu. apa iya aku sebegitu tidak berharganya, sebegitu terlalu kekanakannya, sebegitu membosankannya hingga dengan pasrahnya kamu mengatakan iya untuk apapun yang aku ucapkan.
ah sudahlah, untuk apa sih dibahas lagi.konyol aku ini, kan aku yang membahasnya duluan.
setahun itu lama ya. lama bila aku mulai mengingat banyaknya perubahan di antara hidup (kita) ini.
aku mulai kenal dia, kamu mulai dengan yang itu-itu saja terjebak dalam friend zone tertentu.haha.maaf.
lagi-lagi maaf. memang mungkin tidak ada kata lain yang bisa kuungkapkan kecuali maaf, entah untuk keberapa kalinya. lebih. lebih banyak dari semua kata maaf yang pernah kau ucapkan.
maaf ya. sekali lagi maaf. untuk kesekian kalinya mengganggu hidupmu
maaf menyebutkan ini itu tentang dirimu.
kita memang tidak bisa lagi kan berada dalam satu lingkup tertentu, meski aku tahu itu hanya pertemanan.
aku yakin, tidak akan ada lagi canda tawa, kamu dan aku sama-sama terlalu sensi menerima apa yang dikatakan satu sama lain.
maaf aku terlalu memutuskan sendiri. sekarang bagaimana ? biar .
boleh aku minta doa ? tolong, tolong doakan dia sukses ya, doakan doaku terus bersamanya, doakan aku rela menunggu hingga nanti waktunya tiba,doakan tubuhku berasal dari tulang rusuknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ritual Mengganti Seprei (her)

Kepada seseorang yang hatinya pernah kuremukkan lalu kususun kembali dengan tatanan yang tidak tepat, mungkin malam ini kamu sibuk mengerjap, memandangi langit-langit kamar yang kosong sembari membiarkan memori tentang pertengkaran serta pertukaran kenangan kita di belakang kedua matamu. Begitu pula dengan Aku, yang sibuk berandai-andai bagaimana esok pagi akan kulewatkan tanpa membuatkanmu sepiring panekuk yang terlalu matang dan tidak kamu suka, tapi tetap kamu makan karena kamu tahu hanya itu yang bisa aku buat. Aroma kopi yang tiap pagi Aku buatkan untukmu, tiga sendok bubuk kopi dan satu sendok gula yang diseduh dengan air panas hasil rebusan, masih lekat di remang-remang indra penciumanku. Segala kesibukan yang dulu terasa berat dan tidak menyenangkan, kini terasa kian dirindukan. Sepiring panekuk dan secangkir kopi yang kamu balas dengan senyum dan kecup di pipi kananku, Aku selalu suka. Kamu selalu bersikukuh untuk sarapan, meski setelah itu kegiatanmu hanya seputar bergelu...

terima kasih sebanyak - banyaknya bisa saya bilang

pertama saya mau terima kasih buat Revy Tiara Zahra , yang sudah merombak habis - habisan blog saya jadi terlihat seperti blog cewek (?) good job kedua mau terima kasih buat Bunda , panggilan saya kepada mamanya Revy yang sudah menginspirasi banyak puisi serta cerpen dengan menggunakan bahasa yang lebih menggugah jiwa ketiga buat Virza yang tetep nemenin chat di facebook saat yang laen udah ke twitter (twitter lagi) keempat buat 'someone special' yang mau fotonya sama foto saya pas interview dan baru kenal dulu dibikin profile picture saya kelima buat Mas Danniar atau Mas Dandong yang mau ngasih traktiran besok walopun kayaknya saya cuma minta permen milkita emutan (lollipop maksudnya) keenam .. keenam .. sapa ya ? jadi lupa . keenam buat saya sendiri yang senantiasa ingin membahagiakan orang sekitar walaupun masih belum yakin apakah bisa membahagiakan diri sendiri :p oh iya , ini untuk ketujuh dan seterusnya , makasih buat temen - temen yang suka baca blog saya (g...

Menjadi Rumah

Sudahkah kamu pulang? Pulanglah, peluklah amarahmu. Bersedihlah, menangislah. Tersenyumlah. Karena dalam setiap amarahmu akan ada ketenangan yang menerimamu kembali. Ada ketenangan yang menjadi rumah bagi amarahmu. Karena dalam sedih dan tangismu akan ada bahagia dan peluk-peluknya. Ada bahagia yang menjadi rumah bagi mereka. Maka tersenyumlah, karena ada kisah-kisah sendu yang siap menerimamu kembali. Ada kisah sendu yang menjadi rumah bagi senyummu. Mengingatkanmu kembali pada aroma seorang yang pernah membuatmu patah hati dan kembali berdiri dua kali lebih tegar. Mengingatkanmu atas gelak tawa di tengah malam ketika letih melanda dan lelucon apapun terasa lucu. Mengingatkanmu pada sore-sore yang dihabiskan dengan berkendara. Sudahkah kamu pulang? Pulanglah, peluklah dirimu. Pulanglah, karena tanpa bahagia kamu bisa pulang. Pulanglah, karena amarah juga merindukanmu. Pulanglah, tidak ada yang salah dengan menjadi rapuh.