Langsung ke konten utama

bagian satu.

RAKA : siapa peduli? tak ada. aku hanya lakon anonim dalam drama senja menjelang maghrib untuk menghibur manusia-manusia bimbang. tugasku hanya sebagai badut banyolan yang bahkan terkadang tak pernah dianggap lucu. dunia ini kurang adil bukan untuk orang yang memiliki setidaknya lebih dari satu talenta, mereka cenderung dianggap pecundang, tempat sampah, orang aneh dari entah-planet-mana. beruntungnya aku, mereka lebih menghargaiku dan masih bisa tertawa di dekatku. namun .. entah, dari sekian perempuan yang mencoba merebut hatiku, tak ada satupun yang berhasil menjalankan misinya, sekali lagi, aku tak ingin mereka menganggapku badut. satu yang menganggapku manusia serius, namanya maura, ia adik kelasku, maura menyebutku manusia yang terlalu serius, kami kenal sedikit lama lewat dunia cyber, dan ia bukan hanya satu-satunya yang menganggapku manusia serius, ia juga satu-satunya yang bisa merebut hatiku.
MAURA : terdampar di kelas bajingan memang menyenangkan, bisa berbuat sekehendak hatimu tanpa perlu merisaukan martabat. martabat mu sudah buruk, jadi untuk apa dijaga lagi? aku termasuk salah satu anggota paling aktif dari para cecunguk bajingan baru dan mereka menganggapku manusia tak punya perasaan dengan tawa super keras dan mata anti menangis. entahlah, itu hanya film kawan-kawan. sebenarnya, aku memiliki perasaan, pada seseorang, haha. ia orang yang selalu kusebut-sebut paling serius, bagaimana takdir mempertemukan kami aku tidak tahu, tapi aku hanya ingat dunia cyber merubah kami dari dua manusia yang betolak belakang menjadi dua yang tak terpisahkan, menyenangkan bisa mengenalnya dan keseriusannya yang sampai sekarang masih bertolak belakang denganku. bukankah kecocokan berawal dari perbedaan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ritual Mengganti Seprei (her)

Kepada seseorang yang hatinya pernah kuremukkan lalu kususun kembali dengan tatanan yang tidak tepat, mungkin malam ini kamu sibuk mengerjap, memandangi langit-langit kamar yang kosong sembari membiarkan memori tentang pertengkaran serta pertukaran kenangan kita di belakang kedua matamu. Begitu pula dengan Aku, yang sibuk berandai-andai bagaimana esok pagi akan kulewatkan tanpa membuatkanmu sepiring panekuk yang terlalu matang dan tidak kamu suka, tapi tetap kamu makan karena kamu tahu hanya itu yang bisa aku buat. Aroma kopi yang tiap pagi Aku buatkan untukmu, tiga sendok bubuk kopi dan satu sendok gula yang diseduh dengan air panas hasil rebusan, masih lekat di remang-remang indra penciumanku. Segala kesibukan yang dulu terasa berat dan tidak menyenangkan, kini terasa kian dirindukan. Sepiring panekuk dan secangkir kopi yang kamu balas dengan senyum dan kecup di pipi kananku, Aku selalu suka. Kamu selalu bersikukuh untuk sarapan, meski setelah itu kegiatanmu hanya seputar bergelu...

terima kasih sebanyak - banyaknya bisa saya bilang

pertama saya mau terima kasih buat Revy Tiara Zahra , yang sudah merombak habis - habisan blog saya jadi terlihat seperti blog cewek (?) good job kedua mau terima kasih buat Bunda , panggilan saya kepada mamanya Revy yang sudah menginspirasi banyak puisi serta cerpen dengan menggunakan bahasa yang lebih menggugah jiwa ketiga buat Virza yang tetep nemenin chat di facebook saat yang laen udah ke twitter (twitter lagi) keempat buat 'someone special' yang mau fotonya sama foto saya pas interview dan baru kenal dulu dibikin profile picture saya kelima buat Mas Danniar atau Mas Dandong yang mau ngasih traktiran besok walopun kayaknya saya cuma minta permen milkita emutan (lollipop maksudnya) keenam .. keenam .. sapa ya ? jadi lupa . keenam buat saya sendiri yang senantiasa ingin membahagiakan orang sekitar walaupun masih belum yakin apakah bisa membahagiakan diri sendiri :p oh iya , ini untuk ketujuh dan seterusnya , makasih buat temen - temen yang suka baca blog saya (g...

Menjadi Rumah

Sudahkah kamu pulang? Pulanglah, peluklah amarahmu. Bersedihlah, menangislah. Tersenyumlah. Karena dalam setiap amarahmu akan ada ketenangan yang menerimamu kembali. Ada ketenangan yang menjadi rumah bagi amarahmu. Karena dalam sedih dan tangismu akan ada bahagia dan peluk-peluknya. Ada bahagia yang menjadi rumah bagi mereka. Maka tersenyumlah, karena ada kisah-kisah sendu yang siap menerimamu kembali. Ada kisah sendu yang menjadi rumah bagi senyummu. Mengingatkanmu kembali pada aroma seorang yang pernah membuatmu patah hati dan kembali berdiri dua kali lebih tegar. Mengingatkanmu atas gelak tawa di tengah malam ketika letih melanda dan lelucon apapun terasa lucu. Mengingatkanmu pada sore-sore yang dihabiskan dengan berkendara. Sudahkah kamu pulang? Pulanglah, peluklah dirimu. Pulanglah, karena tanpa bahagia kamu bisa pulang. Pulanglah, karena amarah juga merindukanmu. Pulanglah, tidak ada yang salah dengan menjadi rapuh.