Langsung ke konten utama

when good bye means good bye

Sebelum hari ini, good bye for me just good bye as a words, karena aku mikirnya mungkin beberapa hari kemudian akan ketemu lagi. But today, aku mulai mikir, emang good bye hanya punya makna sedangkal itu?

Pagi ini, aku berangkat les, just living an ordinary life. Yes, I have some good news, but it still doesn't make anything goes special as I expected. Waktu pulang, mbak agnes, temen les setahun ini, tiba-tiba tanya,

"Mir, kamu langsung a?"
"Iya mbak,kenapa?"
"Oh yaudah. Aku ini les terakhir"
and I was like, WHATTTT???!!!!
ya aku nggak begitu deket sih emang, but I know she's talented, I wouldn't let her kill that.
"LOH KENAPAA"
"Kan kelas 3, hehe, aku nggak boleh les"
"Oalah, duluan ya mbak agneees"
"Oke"

emang nggak ada kata good bye sih, but this is a good bye. I mean, aku sama mbak agnes bahkan nggak pernah tau nomer telfon atau pin bb masing-masing. Atau bahkan username twitter. Cuma sekedar temen les, udah, gitu aja. Jadi, kalo mbak agnes udah nggak les, yaudah berarti kita nggak bisa keep in touch lagi, kecuali emang dipertemukan Tuhan.

And I was just thinking, kalo perpisahan sama mbak agnes yang notabene harusnya nggak berarti ternyata bener-bener nusuk gini, gimana kalo aku dipisahkan atau terpaksa harus berpisah sama orang yang selama ini deket sama aku?

Am I gonna die or something?

Since now and on, maybe I would rather say "see you around" instead of "good bye".

'Cause I really really don't want another good bye in my life.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ritual Mengganti Seprei (her)

Kepada seseorang yang hatinya pernah kuremukkan lalu kususun kembali dengan tatanan yang tidak tepat, mungkin malam ini kamu sibuk mengerjap, memandangi langit-langit kamar yang kosong sembari membiarkan memori tentang pertengkaran serta pertukaran kenangan kita di belakang kedua matamu. Begitu pula dengan Aku, yang sibuk berandai-andai bagaimana esok pagi akan kulewatkan tanpa membuatkanmu sepiring panekuk yang terlalu matang dan tidak kamu suka, tapi tetap kamu makan karena kamu tahu hanya itu yang bisa aku buat. Aroma kopi yang tiap pagi Aku buatkan untukmu, tiga sendok bubuk kopi dan satu sendok gula yang diseduh dengan air panas hasil rebusan, masih lekat di remang-remang indra penciumanku. Segala kesibukan yang dulu terasa berat dan tidak menyenangkan, kini terasa kian dirindukan. Sepiring panekuk dan secangkir kopi yang kamu balas dengan senyum dan kecup di pipi kananku, Aku selalu suka. Kamu selalu bersikukuh untuk sarapan, meski setelah itu kegiatanmu hanya seputar bergelu...

terima kasih sebanyak - banyaknya bisa saya bilang

pertama saya mau terima kasih buat Revy Tiara Zahra , yang sudah merombak habis - habisan blog saya jadi terlihat seperti blog cewek (?) good job kedua mau terima kasih buat Bunda , panggilan saya kepada mamanya Revy yang sudah menginspirasi banyak puisi serta cerpen dengan menggunakan bahasa yang lebih menggugah jiwa ketiga buat Virza yang tetep nemenin chat di facebook saat yang laen udah ke twitter (twitter lagi) keempat buat 'someone special' yang mau fotonya sama foto saya pas interview dan baru kenal dulu dibikin profile picture saya kelima buat Mas Danniar atau Mas Dandong yang mau ngasih traktiran besok walopun kayaknya saya cuma minta permen milkita emutan (lollipop maksudnya) keenam .. keenam .. sapa ya ? jadi lupa . keenam buat saya sendiri yang senantiasa ingin membahagiakan orang sekitar walaupun masih belum yakin apakah bisa membahagiakan diri sendiri :p oh iya , ini untuk ketujuh dan seterusnya , makasih buat temen - temen yang suka baca blog saya (g...

Menjadi Rumah

Sudahkah kamu pulang? Pulanglah, peluklah amarahmu. Bersedihlah, menangislah. Tersenyumlah. Karena dalam setiap amarahmu akan ada ketenangan yang menerimamu kembali. Ada ketenangan yang menjadi rumah bagi amarahmu. Karena dalam sedih dan tangismu akan ada bahagia dan peluk-peluknya. Ada bahagia yang menjadi rumah bagi mereka. Maka tersenyumlah, karena ada kisah-kisah sendu yang siap menerimamu kembali. Ada kisah sendu yang menjadi rumah bagi senyummu. Mengingatkanmu kembali pada aroma seorang yang pernah membuatmu patah hati dan kembali berdiri dua kali lebih tegar. Mengingatkanmu atas gelak tawa di tengah malam ketika letih melanda dan lelucon apapun terasa lucu. Mengingatkanmu pada sore-sore yang dihabiskan dengan berkendara. Sudahkah kamu pulang? Pulanglah, peluklah dirimu. Pulanglah, karena tanpa bahagia kamu bisa pulang. Pulanglah, karena amarah juga merindukanmu. Pulanglah, tidak ada yang salah dengan menjadi rapuh.